Ketika Pendidikan Hanya Menjadi Komoditi August 8, 2009
Posted by hermawanbs in Hanya...Tulisan.1 comment so far
Ketika pendidikan hanya menjadi sebuah komoditi
tak ada bedanya ia dengan barang kebutuhan sehari-hari
orang selalu mencari, dan bahkan rela membayar dengan harga tinggi
karena sang penjual pun tak pernah mau rugi
Ketika pendidikan tak lebih dari sebuah komoditi
ia akan menyerupai sebuah proses produksi
“bawakan kami bahan bakunya, maka akan kami jadikan ia produk yang dicari-cari”
begitu mungkin pikiran mereka,
para guru yang tak lagi mendidik dengan hati nurani
Karena pendidikan sudah menjadi komoditi
kitapun tak tahu mau dijadikan apa anak kita nanti
akan menjadi gurukah?
akan menjadi ilmuwankah?
akan menjadi presidenkah?
atau mungkin hanya akan menjadi kuli?
Ah…semoga ini semua tidak terjadi
Karena aku tak ingin anakku hanya menjadi sebuah komoditi
Karena ku yakin anakku layak menjadi elang,
terbang tinggi, memberi arti pada dunia, dan dalam kehormatan kelak ia akan mati
Karena anakku bukan sekedar ayam,
yang tak mampu terbang, matipun karena disembelih, dan (lagi-lagi) hanya menjadi komoditi
Para guru, kalianlah yang akan memberi arti pada anak kami
tolong…
didik anak kami
karena kalian akan menjadikan mereka “siapa”,
dan bukan menjadikan mereka “apa”
Yogyakarta, 07 – 08 – 09
Menyesal Karena Tidak Melakukan Kebaikan – Part 1 July 21, 2009
Posted by hermawanbs in Hidup & Kehidupan.2 comments
Sahabat, ternyata menyesal karena tidak melakukan sebuah perbuatan baik itu sama menyakitkannya dengan penyesalan karena telah melakukan sebuah perbuatan buruk. Setidaknya itulah yang saya rasakan beberapa pekan lalu ketika saya melewatkan 2 kesempatan emas untuk berbuat baik kepada orang lain. Rasanya sakit sekali ketika saya melewatkan kesempatan itu, sampai-sampai malam harinya sulit tidur. Ini terjadi karena dalam 2 kesempatan tersebut saya bertemu dengan orang-orang yang memang membutuhkan bantuan (setidaknya begitu menurut saya).
**********
Kamis malam, perempatan MM UGM
Malam itu saya baru akan pulang dari sebuah warung, membeli makan malam untuk saya dan teman kos. Kami berdua memang sudah kelaparan malam itu. Jam hampir menunjukkan pukul 21.00. Dua bungkus nasi plus ayam kremes sudah di tangan, dan juga sebungkus teh hangat. Saatnya pulang ke kos.
Mendekati perempatan MM UGM, traffic light masih menyala hijau. Mencoba memacu motor, mengejar kesempatan agar tidak terkena lampu merah lagi. Namun apa daya, karena motor tidak bisa dipakai untuk ngebut akhirnya saya sampai di perempatan pas ketika lampu merah menyala. Yah, lumayanlah berhenti sambil mencoba menikmati udara malam yang semakin dingin.
Ketika itu lewatlah seorang anak jalanan, membawa lap kumal di tangannya dan mulai melap bagian depan sepeda motor saya. Uangpun saya berikan ditambah sebuah senyuman, berharap anak itu juga bisa ikut tersenyum. Tapi di luar dugaan dia malah meringis hampir menangis ketika menerima uang pemberian saya sambil berkata, “Minta makanan mas…”
Deg! Kaget juga mendengar permintaan anak itu. Dan terus terang saya bingung, ada 2 bungkus nasi yang saya bawa tapi 2 bungkus nasi itu juga sedang dibutuhkan oleh saya dan teman kos. Akhirnya saya cuma bisa berkata, “Maaf dek, ini buat teman saya.” (duh, jadi sedikit berbohong nih)
Lampu menyala hijau, dan motorpun kembali melaju menuju kos. Tapi sepanjang perjalanan wajah anak jalanan tadi terus terbayang. Bagaimana matanya yang hampir menangis, bagaimana dia akhirnya meringkuk membungkus dirinya dalam kaos kedodoran yang dipakainya dan kemudian berbaring di trotoar. Tampak kedinginan dan kelaparan. Kemudian yang terpikir di benak saya cuma satu hal, bahwa saya harus kembali dan membawakan makanan untuk anak itu. Harus.
Sampai di kos, titipan teman langsung saya berikan dan saya titipkan nasi jatah saya padanya. Kemudian saya ke kamar mengambil roti yang masih belum dibuka juga dan langsung melaju lagi. Tekad sudah bulat, belikan nasi dan antarkan. Sampai di warung saya langsung memesan paket persis seperti yang saya pesan sebelumnya, nasi ayam kremes plus teh hangat. Begitu pesanan rampung, dengan penuh semangat dan sukacita saya menuju perempatan MM UGM lagi dan kali ini berharap anak tadi masih tetap di sana.
Sampai di perempatan, berhenti lagi karena kali ini lampu merah menyala (sebenarnya memang mengincar lampu merah sih). Memang ada seorang peminta-minta di sana tetapi bukan si anak kecil tadi. Saya terus mencari, melihat sekeliling, di mana anak kecil tadi? Tapi dia sudah tidak ada di sana. Dia sudah digantikan oleh seorang ibu yang menurut saya wajahnya masih terlihat segar-bugar, dan karena itu saya tidak memberikan nasi bungkus pada ibu itu.
Masih penasaran dengan keberadaan anak tadi, sayapun akhirnya muter-muter dari satu traffic light ke traffic light lainnya di perempatan MM UGM. Mencari anak tadi, melihat satu-persatu tampang anak jalanan dan pengemis yang mangkal. Tapi yang ada hanyalah serombongan pengemis dan anak jalanan yang masih berwajah segar bahkan ceria. Tidak ada tanda-tanda anak jalanan yang tadi hampir menangis meminta makanan.
Akhirnya saya pulang, sebungkus nasi ayam kremes plus teh hangat masih utuh. Tapi perjalanan pulang malam itu terasa menyesakkan karena saya baru saja melewatkan sebuah kesempatan emas untuk memberi. Sebuah penyesalan yang menyakitkan, dan diam-diam penyesalan itu memunculkan tekad dalam hati saya. Bahwa suatu hari nanti saya harus menjadi orang kaya, dan saya akan mendirikan sebuah sekolah khusus untuk anak-anak jalanan. Sebuah sekolah dimana mereka tidak perlu mencemaskan lapar mereka. Sebuah sekolah dimana mereka akan belajar mengubah mindset mereka untuk menjadi lebih baik, dan untuk selalu berusaha memberi bukannya meminta. Sebuah sekolah dimana mereka akan belajar dan berusaha mengejar impian-impian mereka yang terindah. Suatu hari nanti. Harus. Insya Alloh…
Cinta Itu Indah July 20, 2009
Posted by hermawanbs in Cinta & Mencintai.2 comments
Kata orang, cinta itu indah. Keberadaan cinta membuat segala sesuatu menjadi indah. Hal-hal buruk akan segera sirna bila cinta sudah singgah di situ. Awan gelap pun akan menyingkir dari hati dan berganti dengan hangatnya cinta. Indah, begitu indah.
Orang yang mencintai pekerjaannya tidak akan merasa sedih bila menghadapi masalah ataupun gagal. Ia akan belajar dari kesalahannya, dan kemudian akan mencoba kembali. Bahkan ia akan rela mengorbankan apa yang dimilikinya untuk bangkit kembali. Bila orang bertanya padanya, “Kenapa kamu tidak berganti pekerjaan lain saja?” Maka ia akan menjawab, “Saya sudah cinta dengan pekerjaan ini.”
Seorang ibu yang mencintai anaknya pun akan melakukan segala yang ia mampu dan akan memberikan segala yang ia punya untuk kebahagiaan anaknya. Meski untuk itu ia sendiri harus merasakan sakit. Ia akan terus berkorban, bahkan ketika si anak tidak membalas jasanya. Bila ada yang bertanya, “Apa yang membuat ibu sampai berkorban seperti itu?” Maka ia akan menjawab, “Saya mencintai anak-anak saya.”
Pun seorang insan yang jatuh cinta kepada pasangannya, ia tidak akan melihat kekurangan yang dimiliki pasangannya. Baginya, apapun yang dimiliki sang kekasih hati adalah sebuah kelebihan. Dan ia mencintai itu. Bahkan bila ada hal buruk yang muncul, ia pun akan memandangnya dengan sudut pandang cinta. Bahwa keburukan adalah sebuah ladang amal, untuk berdakwah dan memperbaikinya. Ia menerima kekasihnya bukan hanya karena kelebihan yang dimiliki, namun juga karena kekurangan yang melekat pada sang kekasih. Cinta telah menyadarkannya, bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan. Dan karena itulah kita butuh orang lain, untuk belajar dan menyempurnakan diri kita.
Begitulah cinta. Segala hal besar yang tercipta dimulai dari cinta. Kehidupan kita pun tercipta karena begitu besarnya cinta Sang Rabb pada hamba-Nya kan?
Dan karena cinta itu indah, maka tentunya tidak akan ada rasa sakit dalam mencintai. Karena itu bila suatu saat engkau merasakan cinta dan ada rasa sakit pula yang terselip di situ, coba tanyakan lagi pada hatimu. Apakah cintamu adalah cinta yang benar? Dan apakah engkau sudah mencintai dengan benar?
Diffabled July 11, 2009
Posted by hermawanbs in Hidup & Kehidupan.add a comment
Diffabled
Sahabat, pernahkah engkau mendengar kata diffabled?
Dalam bahasa Indonesia, diffabled seringkali ditulis dan diucapkan sebagai difabel. Engkau pasti sudah sering mendengar kata tersebut atau mungkin mengucapkannya. Dan bahkan engkau mungkin sudah sering bertemu dengan mereka. Siapakah orang-orang difabel ini?
Diffabled atau yang dibahasa Indonesiakan menjadi difabel adalah istilah atau sebutan halus untuk para penyandang cacat. Saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik. Di antara mereka yang tidak mampu melihat (tuna netra), ada pula yang tidak mampu mendengar (tuna rungu), dan ada pula yang tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap layaknya manusia normal.
Penyebab mereka memiliki kekurangan itupun beragam. Ada yang dikarenakan bawaan sejak lahir, ada yang karena terkena penyakit, ada pula yang disebabkan kecelakaan yang pernah mereka alami sebelumnya sehingga mereka harus rela kehilangan sebagian anggota tubuhnya.
Di masyarakat kita, mereka sering disebut sebagai orang cacat. Orang yang memiliki kekurangan. Orang yang tidak sempurna. Orang yang nantinya tidak akan mampu mencapai prestasi seperti yang ditorehkan oleh orang normal. Dan bahkan ada yang memberi cap bahwa mereka adalah orang-orang yang nantinya hanya akan merepotkan, hanya akan menjadi beban bagi orang lain, dan hanya akan menjadi sampah. Mereka cacat. Layaknya barang produksi pabrik, barang cacat tidak akan laku dijual dan hanya akan menghiasi gudang atau mungkin dibuang. Tak berguna.
Namun memang tidak semua orang berpandangan demikian. Masih banyak orang yang mau menghargai mereka, yang menganggap mereka sama, tidak ada bedanya dengan orang normal. Dan mereka berhak untuk diperlakukan sebagai orang normal, mencapai prestasi yang bahkan melebihi orang normal.
Saya punya seorang sahabat, mas Aji namanya, dan dia adalah seorang difabel. Ia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya sejak usia 10 tahun. Dan sampai sekarang di usianya yang menginjak 25 tahun, ia selalu menggunakan kursi roda. Namun, ia adalah seorang difabel yang memutuskan untuk hidup mandiri, tidak mengemis dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain termasuk pada keluarganya. Bahkan ia yang membiayai hidup ibu dan adik-adiknya di kampung melalui hasil berdagangnya.
Suatu hari mas Aji memberitahukan kepada saya apa sebenarnya arti kata difabel. Katanya, difabel berasal dari bahasa Inggris, diffable, yang merupakan singkatan dari kata different dan ability. Different ability, yang artinya kurang lebih kemampuan yang berbeda. Mas Aji mengartikan bahwa kaum difabel adalah orang-orang yang sebenarnya memiliki kemampuan berbeda dengan orang biasa. Kondisi fisik mereka menjadikan mereka berbeda, dan karena itu memberikan mereka kemampuan yang berbeda pula.
Sebuah definisi yang luar biasa bukan? Sebuah definisi yang mengubah cara pandang terhadap sebuah kekurangan. Dari kata cacat yang berkonotasi negatif menjadi sebuah definisi yang memandang positif kondisi cacat tersebut. Dengan cara pandang ini, kekurangan bukan berarti cacat melainkan sebuah kesempatan untuk menjadi berbeda, untuk menjadi lebih baik dari mereka yang normal.
Walaupun di kamus yang tercantum adalah kata diffabled (sebenarnya singkatan dari differently abled) dan bukan diffable (different ability), tapi saya tetap lebih memilih menggunakan kata diffable yang berarti kemampuan berbeda. Karena sebutan itu akan membuat kita memandang mereka secara positif, memandang mereka sebagai orang-orang luar biasa yang mencoba menjadi yang terbaik walaupun kondisi mereka tidak menguntungkan.
Mulai saat ini, sahabat, mari kita tinggalkan kata cacat itu. Jangan pernah lagi kita gunakan kata cacat untuk menyebut saudara-saudara kita. Mulai saat ini, hargai mereka dan berikan apresiasi kepada mereka. Jangan pernah lagi kita menganggap mereka sebagai orang-orang yang tidak mampu berprestasi, orang-orang yang hanya menjadi beban, dan memalukan. Gantilah pandangan sinis di mata kita setiap kali melihat mereka, dengan sebuah pandangan penuh penghargaan, penuh kekaguman. Karena mereka telah berani menjalani hidup dengan sebuah kondisi yang bagi kita tidak menguntungkan. Karena mereka telah berani menantang dirinya sendiri dan menantang dunia, bahwa mereka akan mampu menjadi yang terbaik. Dan kita seharusnya belajar hal itu dari mereka.
Dan mari kita belajar untuk berhenti mengeluhkan segala kondisi yang kita terima. Sadarilah bahwa Allah sesungguhnya telah memberikan kepada kita semua hal yang terbaik untuk diri kita. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan hanya akan membawa kita kepada kondisi mental yang lebih buruk. Kita tidak akan pernah menjadi pemenang bila mengeluh masih menjadi menu utama kita sehari-hari.
Bila kaum difabel mampu melakukan sesuatu yang berbeda dan luar biasa dengan apa yang mereka miliki, maka tanyakan pada hatimu apa yang bisa kau lakukan dengan semua yang Allah berikan padamu.